Catatan Pribadi Bapak Eddwi Kurniyanto – Part 01

Share Medsos

Catatan Pribadi Bapak Eddwi Kurniyanto – Part 01

PANTANG PATAH ARANG
Karena sesungguhnya kita bangsa perjuang
Semangat dari Kakek di Pinggir Jalan

Selepas sholat, saya berkeliling di area yang tak jauh dari perumahan. Saat sedang berjalan, tak sengaja pandangan saya mengarah ke seorang kakek yang tengah duduk termangu di pinggir jalan. Melihat Kakek yang tengah duduk termangu itu, saya pun menghampiri beliau.

Saya kemudian menanyakan beberapa hal kepada beliau, tanpa terkecuali apa yang sedang dilakukannya di pinggir jalan. Kakek itupun menjawab, jikalau dirinya sedang bekerja.

Saya hanya diam sejenak. Menunggu Kakek itu meneruskan ceritanya. Rupanya, beliau adalah seorang penambal ban. Percakapan antara saya dan beliau belanjut hingga saya tercengang saat mengetahui usia beliau telah mencapai seratus tahun.

Saya tercekat saat mengetahui usia beliau. Usia seratus tahun tentu usia yang sangat luar biasa. Dan …, di usia seperti itu, bukankah sudah seharusnya beliau berada di rumah bersama anak dan kelucuan sang cucu?

“Badan saya masih sehat, masih kuat bekerja. Saya bisa menambal ban, ya, saya lakukan. Saya tidak ingin merepotkan. Selagi mampu, saya harus berusaha”, ujar si Kakek.

Begitulah kurang lebih yang disampaikan. Hanya saja, saat itu beliau menyampaikannya dengan bahasa Jawa. Saya pun kembali terdiam beberapa lama atas apa yang dikatakan kakek itu. Bagi saya, itu adalah sebuah pembelajaran yang sangat penting untuk kita reguk.

Mungkin, sejauh ini kita lupa tentang arti kehidupan yang memang serat akan perjuangan. Hidup memang tidak mudah. Tapi, bukan lantas untuk dibuat keluh kesah. Kita adalah bangsa pejuang, yang memang sudah seharusnya pantang patah arang.

Layaknya beliau, seorang kakek yang saya temui di pinggir jalan. Diusia senjanya, ia masih berjuang dengan jiwa dan raganya mengaruhi samudra kehidupan yang serat akan hantaman ombak dan badai ujian serta cobaan

Seperti yang dikatakan Kekek itu. Kita adalah bangsa Pejuang, bukan?

Jika memang kita sepakat, mengapa kita mudah patah arang dan gemar menebar keluhan? Saya rasa, sebagai bangsa pejuang, tidak seharusnya hal itu digaungkan, bukan? Lebih lagi, saat ini situasi negeri kita dilanda Pandemi.

Sudah seharusnya jiwa pejuang kita menggelora. Bersatu dan saling membantu untuk menyelesaikan badai yang kini tengah melanda negeri tercinta ini.
Kita adalah bangsa pejuang, Kawan.
Mari kita ingat itu, Kawan. Sebuah pembelajaran semangat dari Kakek di Pinggir Jalan.

Tulisan Bapak Eddwi Kurniyanto

Video :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *